Moralitas Komunikasi dan Sebuah Awal Dialog

bukuislamibestseller-proud of youJanoe Arijanto

Iklan memang tidak pernah berdiri sendiri, kehadirannya di tengah masyarakat selalu dipengaruhi dan mempengaruhi eksistensi publik. Iklan adalah produk sosial, yang memiliki konsekuensi sosial, tanggung jawab sosial dan resiko sosial. Dari sisi inilah, fungsi iklan yang didesain dan dibiayai secara besar memiliki arti yang strategis.

Posisi sosial iklan ini menjadi tidak sederhana ketika kita tempatkan ditengah tengah penafsiran etika dan moral yang spesifik, seperti pembahasan tentang iklan Syariah. Seperti mencoba mempertemukan prinsip keimanan dengan pekerjaan sehari hari yang rasional di dunia periklanan.

Mendesain, merancang atau mengeksekusi Iklan Syariah, memang tak semudah sekedar memindahkan logika penafsiran kitab suci ke dalam proses komunikasi dalam bentuk iklan. Karena logika Iklan, seringkali memiliki jalannya sendiri jika dibandingkan dengan penafsiran moral. Irisan-irisannya yang sama masih harus didiskusikan terus menerus.

Iklan misalnya, dituntut untuk menyampaikan pesan secara efektif, menarik dan langsung. Kadang iklan dengan sengaja dibuat untuk memancing dialog, bahkan memancing kontroversi. Jelas, beberapa prinsip iklan seperti itu, akan sering bertubrukan dengan penafsiran-penafsiran kitab suci yang dilakukan secara kaku.

Sebagai Ilustrasi, jika ada sebuah ayat melarang menampilkan gambar hidup dan utuh dari manusia, maka penerapan ayat-ayat tersebut pada praktek komunikasi akan berbenturan keras dengan banyak kepentingan. Bahkan akan menemui banyak tantangan untuk diterapkan. Di kasus seperti itulah, dialog yang cerdas, saling pengertian dan komitmen untuk membangun komunikasi yang lebih baik sangat diperlukan. Terutama ketika kita memperkenalkan praktek iklan syariah.

Meski kita sadari, bahwa dunia iklan seringkali tidak selalu berjalan seiring dengan penafsiran kitab suci, namun toh persoalan mencari titik temu dan terus menerus mencari benang merah harus terus digulirkan. Lebih karena kenyataan sosial, menuntut diadakannya proses tersebut.

Pemberian makna pada proses komunikasi Syariah, adalah transaksi sosial. Sebuah penawaran kepada publik, bahwa label syariah, yang berisi muatan ajaran Islam, sejarah Islam, kultur Islam ataupun Filsafat Islam kini bisa diterapkan dalam komunikasi pemasaran.

Sebenarnya, jauh sebelum ke persoalan transaksi sosial, jika dirasakan lebih detil dan mendalam, traksaksi nilai dan dialog internal yang kreatif itu telah terjadi di masing-masing penulis dalam buku ini. Karena memang, disiplin barat dalam periklanan dan management, menuntut adaptasi yang kreatif ketika diterapkan dalam penafsiran Syariah (Saya pribadi sering menikmati saling silang, transaksi nilai dan dialog internal itu dalam kacamata analisis isi).

Sebagaimana sebuah penawaran konsep sosial kepada publik. Diperlukan kearifan untuk menampung segala ide dan pendapat yang pastinya beragam dan kaya. Dan buku ini adalah usaha untuk membuka dialog itu, sebuah rangkaian pemikiran yang mengembangkan eksistensi komunikasi syariah dalam masyarakat Indonesia.

Sebagaimana sebuah hipotesa, tentu saja buku ini akan menjadi bahan diskusi yang memancing dialog-dialog dan tafsir cerdas yang akan membangun kultur dan moral komunikasi yang lebih baik untuk umat manusia.