Khilafah Tends to Corrupt?

Akuntabilitas Negara Khilafah

Akuntabilitas Negara Khilafah

Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Demikian Lord Acton mewariskan kata-kata yang begitu dipercaya kuat oleh orang yang sangat pro pada “pemerintahan rakyat”, yang akhirnya menjadikan pemimpin yang memiliki kewenangan besar begitu ditakuti.

 

Negara Khilafah yang menempatkan seorang khalifah begitu berkuasa karena hak mengadopsi hukum mutlak berada di tangannya, kerap dituding sebagai contoh negara yang berbahaya karena tidak ada chek & balance. (Sebuah tulisan yang menyebut hal seperti itu, pernah dimuat di kompasiana tgl 21/09/2013)

Apakah benar negara khilafah adalah negara yang berpotensi korup karena tidak ada sistem check and balance? Mari kita simak kutipan berikut:

Suatu hari, Jariyah bin Qudama as-Sa’adi mengunjungi Mu’awiyah bin Abu Sufyan ra yang saat itu menjabat sebagai Khalifah. Ketika itu, tiga menteri Romawi juga sedang mengunjunginya. Lalu Mu’awiyah ra berkata kepada jariyah: “Bukankah engkau adalah salah satu pendukung Ali (ra)?”

Jariyah berkata: “Hormati Ali dalam ucapanmu, karena kami tidak pernah menghinakannya, sebab kami mencintainya, dn kami pun tidak pernah mencuranginya, selain memberikan nasehat dan saran padanya.”

Kemudian Mu’awiyah berkata lagi: “Celakalah Engkau Jariyah! Engkau pasti dibenci orang tuamu karena mereka menamaimu Jariyah (yang artinya budak perempuan).” Jariyah menjawab: “Dan Engkau juga pasti dibenci orang tuamu karena mereka menamaimu Mu’awiyah (yang arti lainnya pelacur yang mengonggong dan menjilat bagai anjing).”  Mu’awiyah berteriak: “Diam kau!Engkau bahkan tidak punya Ibu!” 

Jariyah pun balik menjawab: “Engkau yang harus diam wahai Mu’awiyah (tidak menyebutnya Amirul Mukminin) karena aku punya seorang ibu yanng memberiku pedang yang pernah kupakai menghadapimu. kemudain kami pernah memberikan bai’at kami kepadamu, untuk mendengar dan mematuhimu selama engkau memerintah kami berdasarkan firman Allah.Jadi, bila engkau penuhi janjimu, ingatlah bahwa dibelakng kami, berdiri para kesatria bersenjata, yang tidak akan tinggal diam melihat penyimpanganmu.”

Mu’awiyah berkata: Semoga Allah membekali kami dengan apa yang engkau harapkan!” Jariyah menajwab: “Engkau (lagi-lagi tidak memanggil dengan gelar Amirul Mukminin) katakan sesuatu dengan baik dan sopan, karena tempat untuk penguasa yang buruk adalah di neraka.” Jariyah kemudian berlalu dengan menahan kemarahannya tanpa meminta izin untuk pergi dari Mu’awiyah.

Sepeninggal Jariyah, tiga menteri Romawi kembali menghadap pada Mu’awiyah, dan salah satu dari mereka lalu berkata: “Kaisar kami tidak akan ditegur oleh salah seorang warga negara kecuali jika warganya itu berniat melepas mahkota di kepalanya. Jika seseorang di sekitarnya atau keluarganya meninggikan suaranya, bisa-bisa mereka dicincang atau dibakar. Jadi, bagaimana bisa seorang Arab gurun yang kasar dengan perilakunya yang buruk bisa datang begitu saja dan memperlakukanmu seperti tadi, seakan-akan ia sejajar denganmu?”

Mu’awiyah lalu tersenyum dan berkata: “Aku memerintah orang-orang yang tak kenal rasa takut dalam menegakkan kebenaran, dan semua rakyatku memiliki sifat seperti orang Arab gurun tadi. Tidak satu pun di antara mereka yang lemah dalam menegakkan kalimat Allah Swt, tidak ada di antara mereka yang diam melihat ketidakadilan, dan aku pun tidak berada di atas mereka, selain dalam masalah keimanan. Aku telah berkata-kata kasar pada orang tadi dan ia pun berhak menjawab. Aku yang memulai dan aku pula yang layak disalahkan, bukan dia.”

Mendengar kata-kata Mu’awiyah itu, menteri Romawi tersebut menangis hingga Mu’awiyah bertanya mengapa ia menangis. Lalu menteri itu menjawab: “Sebelum hari ini kami mengira bahwa kami setara dengan kalian dalam hal perlindungan dan kekuatan. Namun setelah menyaksikan peristiwa tadi, aku takut bahwa suatu hari nanti kalian akan meluaskan kekuasaannya ke wilayah kami”.

Di Negara Khilafah, pemandangan seperti ini adalah hal biasa. Perintah amar ma’ruf, khususnya pada penguasa akan menciptkan check and balances. Melalui majelis ummat, aspirasi untuk meng-impeach khalifah sekalipun, bisa disampaikan.
Baca selengkapnya di buku: Akuntabilitas Negara Khilafah terbitan Pustaka Thariqul Izzah. Dan kisah-kisah mengagumkan seperti di atas bisa didapatkan dalam kitab Tarikh Khulafa Imam As-Suyuthi.