Yuk Berhijab!

yuk berhijabPertanyaan tentang mana yang lebih dulu menghijabi hati atau diri, seringkali terdengar. Pertanyaan itu seringkali membingungkan bagi yang masih awam, sekaligus menjadi tameng andalan bagi orang yang tidak ingin menghijabi dirinya, dengan alasan ingin menghijabi hatinya lebih dahulu.

Ditambah lagi dengan memberikan pepatah don’t judge the book by its cover, mereka yang tidak mau berhijab beralasan dengan berkata, “percuma dihijab kepala dan badan kalau perbuatan masih maksiat, makanya saya hijab hati dulu deh.” Pepatah yang benar, tapi dijadikan penyesat muslimah untuk tidak berhijab.

Buku merah muda ini terdiri sembilan bab. Selain bab bagaimana dunia memandang wanita, pandangan Islam tentang wanita, dan wanita dan aurat yang sedikit terjelaskan di atas. Ada bab menutup aurat dan pakaian syar’i penutup aurat. Kemudian bab Berpakaian tapi telanjang, bab tabarruj, bab hijab bukan perhiasan, bab kata orang, yang inti semuanya berisi tentang bagaimana menutup aurat yang benar. Dan bab terakhir berhijablah dan taatlah, yang membahas tulisan awal di atas.

“Hijab tanpa nanti, taat tanpa tapi.” Selamat membaca!

Belajar dari Tokoh Pergerakan

belajar-dari-masyumi

Belajar dari Partai Masyumi

Mohammad Yamin begitu membenci Buya Hamka karena perbedaan Ideologi. Ia aktif di Partai Nasionalis Indonesia (PNI), sedangkan Hamka aktif di partai Masyumi. PNI meninginginkan Pancasila sebagai dasar negara, sementara Partai Masyumi berpegang teguh pada sikap ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara. Kebencian Yamin tersulut ketika dalam Sidang Majelis Konstituante, dengan lantang Buya Hamka berpidato dan mengatakan, “Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka!”

Pidato Buya Hamka yang tegas tersebut kemudian menyulut kebencian Mohammad Yamin. Ia menyuarakan kebenciannya kepada Hamka dalam berbagai kesempatan, baik ketika dalam ruang Sidang Konstituante, ataupun dalam berbagai acara dan seminar.

“Rupanya bukan saja wajahnya yang memperlihatkan kebencian pada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya,” begitu kata Buya Hamka.

Tetapi tahun 1962, ketika Mohammad Yamin sakit dan di rawat di RSPAD, dia mengutus Chaerul Saleh agar menjemput Buya Hamka. Sesampai di rumah sakit, Buya Hamka mendekatinya dan menjabat tangannya. Yamin memegang erat tokoh yang dulu pernah dimusuhinya itu. Sementara Hamka terus membisikkan ke teligya Yamin surat Al-Fatihah dan kalimat tauhid. “Laa Ilaaha Illallah”. Dengan suara lirih, Yamin mengikutinya, namun tak berapa lama, tangannya terasa dingin. Yamin menghembuskan nafas terakhirnya disamping sosok yang dulu menjadi seterunya.

(Bab Ketika Perbedaan ideologi Tak Mewariskan Dendam) Continue reading