Belajar dari Tokoh Pergerakan

belajar-dari-masyumi

Belajar dari Partai Masyumi

Mohammad Yamin begitu membenci Buya Hamka karena perbedaan Ideologi. Ia aktif di Partai Nasionalis Indonesia (PNI), sedangkan Hamka aktif di partai Masyumi. PNI meninginginkan Pancasila sebagai dasar negara, sementara Partai Masyumi berpegang teguh pada sikap ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara. Kebencian Yamin tersulut ketika dalam Sidang Majelis Konstituante, dengan lantang Buya Hamka berpidato dan mengatakan, “Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka!”

Pidato Buya Hamka yang tegas tersebut kemudian menyulut kebencian Mohammad Yamin. Ia menyuarakan kebenciannya kepada Hamka dalam berbagai kesempatan, baik ketika dalam ruang Sidang Konstituante, ataupun dalam berbagai acara dan seminar.

“Rupanya bukan saja wajahnya yang memperlihatkan kebencian pada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya,” begitu kata Buya Hamka.

Tetapi tahun 1962, ketika Mohammad Yamin sakit dan di rawat di RSPAD, dia mengutus Chaerul Saleh agar menjemput Buya Hamka. Sesampai di rumah sakit, Buya Hamka mendekatinya dan menjabat tangannya. Yamin memegang erat tokoh yang dulu pernah dimusuhinya itu. Sementara Hamka terus membisikkan ke teligya Yamin surat Al-Fatihah dan kalimat tauhid. “Laa Ilaaha Illallah”. Dengan suara lirih, Yamin mengikutinya, namun tak berapa lama, tangannya terasa dingin. Yamin menghembuskan nafas terakhirnya disamping sosok yang dulu menjadi seterunya.

(Bab Ketika Perbedaan ideologi Tak Mewariskan Dendam) Continue reading

Khilafah Tends to Corrupt?

Akuntabilitas Negara Khilafah

Akuntabilitas Negara Khilafah

Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Demikian Lord Acton mewariskan kata-kata yang begitu dipercaya kuat oleh orang yang sangat pro pada “pemerintahan rakyat”, yang akhirnya menjadikan pemimpin yang memiliki kewenangan besar begitu ditakuti.

 

Negara Khilafah yang menempatkan seorang khalifah begitu berkuasa karena hak mengadopsi hukum mutlak berada di tangannya, kerap dituding sebagai contoh negara yang berbahaya karena tidak ada chek & balance. (Sebuah tulisan yang menyebut hal seperti itu, pernah dimuat di kompasiana tgl 21/09/2013)

Apakah benar negara khilafah adalah negara yang berpotensi korup karena tidak ada sistem check and balance? Mari kita simak kutipan berikut:

Suatu hari, Jariyah bin Qudama as-Sa’adi mengunjungi Mu’awiyah bin Abu Sufyan ra yang saat itu menjabat sebagai Khalifah. Ketika itu, tiga menteri Romawi juga sedang mengunjunginya. Lalu Mu’awiyah ra berkata kepada jariyah: “Bukankah engkau adalah salah satu pendukung Ali (ra)?”

Jariyah berkata: “Hormati Ali dalam ucapanmu, karena kami tidak pernah menghinakannya, sebab kami mencintainya, dn kami pun tidak pernah mencuranginya, selain memberikan nasehat dan saran padanya.”

Kemudian Mu’awiyah berkata lagi: “Celakalah Engkau Jariyah! Engkau pasti dibenci orang tuamu karena mereka menamaimu Jariyah (yang artinya budak perempuan).” Jariyah menjawab: “Dan Engkau juga pasti dibenci orang tuamu karena mereka menamaimu Mu’awiyah (yang arti lainnya pelacur yang mengonggong dan menjilat bagai anjing).”  Mu’awiyah berteriak: “Diam kau!Engkau bahkan tidak punya Ibu!” 

Jariyah pun balik menjawab: “Engkau yang harus diam wahai Mu’awiyah (tidak menyebutnya Amirul Mukminin) karena aku punya seorang ibu yanng memberiku pedang yang pernah kupakai menghadapimu. kemudain kami pernah memberikan bai’at kami kepadamu, untuk mendengar dan mematuhimu selama engkau memerintah kami berdasarkan firman Allah.Jadi, bila engkau penuhi janjimu, ingatlah bahwa dibelakng kami, berdiri para kesatria bersenjata, yang tidak akan tinggal diam melihat penyimpanganmu.”

Mu’awiyah berkata: Semoga Allah membekali kami dengan apa yang engkau harapkan!” Jariyah menajwab: “Engkau (lagi-lagi tidak memanggil dengan gelar Amirul Mukminin) katakan sesuatu dengan baik dan sopan, karena tempat untuk penguasa yang buruk adalah di neraka.” Jariyah kemudian berlalu dengan menahan kemarahannya tanpa meminta izin untuk pergi dari Mu’awiyah.

Sepeninggal Jariyah, tiga menteri Romawi kembali menghadap pada Mu’awiyah, dan salah satu dari mereka lalu berkata: “Kaisar kami tidak akan ditegur oleh salah seorang warga negara kecuali jika warganya itu berniat melepas mahkota di kepalanya. Jika seseorang di sekitarnya atau keluarganya meninggikan suaranya, bisa-bisa mereka dicincang atau dibakar. Jadi, bagaimana bisa seorang Arab gurun yang kasar dengan perilakunya yang buruk bisa datang begitu saja dan memperlakukanmu seperti tadi, seakan-akan ia sejajar denganmu?”

Mu’awiyah lalu tersenyum dan berkata: “Aku memerintah orang-orang yang tak kenal rasa takut dalam menegakkan kebenaran, dan semua rakyatku memiliki sifat seperti orang Arab gurun tadi. Tidak satu pun di antara mereka yang lemah dalam menegakkan kalimat Allah Swt, tidak ada di antara mereka yang diam melihat ketidakadilan, dan aku pun tidak berada di atas mereka, selain dalam masalah keimanan. Aku telah berkata-kata kasar pada orang tadi dan ia pun berhak menjawab. Aku yang memulai dan aku pula yang layak disalahkan, bukan dia.”

Mendengar kata-kata Mu’awiyah itu, menteri Romawi tersebut menangis hingga Mu’awiyah bertanya mengapa ia menangis. Lalu menteri itu menjawab: “Sebelum hari ini kami mengira bahwa kami setara dengan kalian dalam hal perlindungan dan kekuatan. Namun setelah menyaksikan peristiwa tadi, aku takut bahwa suatu hari nanti kalian akan meluaskan kekuasaannya ke wilayah kami”.

Di Negara Khilafah, pemandangan seperti ini adalah hal biasa. Perintah amar ma’ruf, khususnya pada penguasa akan menciptkan check and balances. Melalui majelis ummat, aspirasi untuk meng-impeach khalifah sekalipun, bisa disampaikan.
Baca selengkapnya di buku: Akuntabilitas Negara Khilafah terbitan Pustaka Thariqul Izzah. Dan kisah-kisah mengagumkan seperti di atas bisa didapatkan dalam kitab Tarikh Khulafa Imam As-Suyuthi.

Khutbah Jum’at Hari Ini

KHUTBAH JUM’AT HARI INI

khutbah jumatBa’da Tahmid Wa Tasliim

Sahabat Ibnu Umar ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW, yang menyatakan bahwa beliau tidak meninggalkan sebuah mejelis sebelum mendoakan sahabatnya dengan doa berikut:

Ya Allah, karunikanlah untuk kami rasa takut kepadaMu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan (karuniakanlah untuk kami) ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu, serta (karuniakanlah untuk kami) keyakinan hati yang dapat meringankan kami dari berbagai cobaan dunia. Jadikankan kami bisa menikmati dan memanfaatkan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama kami hidup. Dan jadikan semua itu sebagai pewaris bagi kami (tetap ada pada kami sampai kematian). Jadikanlah kemarahan dan balas dendam kami hanya kepada orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami. (Ya Allah) Janganlah Engkau turunkan musibah yang  menimpa dien kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.”

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap manusia akan melalui cobaan, ujian atau musibah dalam hidupnya. Dan Allah menciptakan hidup dan mati karena ingin menguji, siapa di antara kita yang paling baik amalannya.

Dalam doa di atas, Rasulullah SAW menyebutkan dua jenis cobaan atau musibah yang mungkin menimpa orang mukmin. Yakni musibah dunia dan musibah agama.

Musibah dunia sudah biasa kita lihat dan mungkin pernah menimpa kita. Anak yang sakit, usaha yang bangkrut, harga-harga melambung, nilai tukar mata uang yang anjlok, adalah sebagian contoh kesulitan-kesulitan dunia yang kita tidak harapkan. Sedangkan musibah agama yaitu musibah mengancam keimanan. Musibah ini bisa berupa aqidah yang batil, tidak takut pada dosa, melanggar syariat dan terjerumus dalam kemaksiatan-kemaksiatan, melalaikan ibadah, dsb.

Dan untuk menghadapi berbagai cobaan dunia, Rasul SAW mengajarkan kita agar meminta kepada Allah keyakinan hati yang dapat meringankan kita menghadapi cobaan tersebut. Karena Allah telah berfirman: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al-Baqarah [2]: 155). Oleh karena ujian semacam ini sudah ketetapan Allah, maka yang dibutuhkan saat menghadapai musibah adalah kesabaran, prasangka baik, dan tidak mudah berputus asa. Insya Allah dengan kesabaran dan ikhtiar yang sungguh2, ujian-ujian tersebut akan segera berlalu. Ekonomi akan berangsur-angsur pulih, harga-harga kembali normal, dan dengan kesungguhan kita, masalah-masalah hidup bisa kita hadapi dengan lebih tenang.

Tetapi untuk urusan agama, doa yang diminta Rasulullah SAW kepada Allah SWT adalah : Ya Allah, jangan sekali-kali menimpakan musibah terhadapa urusan agama kami. Karena sesungguhnya musibah terbesar yang menimpa seorang hamba adalah musibah yang  menimpa agamanya, musibah meninggalkan ketaatan, musibah terjerumus ke dalam kemaksiatan, musibah kerasnya hati, dan putus hubungan dengan Allah.

Dan musibah-musibah dalam urusan agama kita sekarang sudah sangat merajalela dan dianggap biasa. Sekarang ini sudah jadi pemandangan biasa pada hari Jum’at, orang pada datang setelah khutbah dimulai, bahkan ada yang datang menjelang khutbah selesai. Padahal semua kita pada tahu, bahwa mendengar khutbah merupakan bagian dari rangkaian ibadah jum’at.

Pekan lalu ketika memperingati hari AIDS se-dunia, pemerintah meluncurkan program Pekan Kondom Nasional. Salah satu aksinya adlah bagi-bagi kondom gratsi, termasuk di lembaga pendidikan. Alasannya, untuk mencegah penularan HIV bagi pelaku seks beresiko. Tapi kenapa pula di bagi di kampus-kampus. Aksi semacam itu sebenarnya sama saja dengan pelegalan perzinahan. Boleh berzina, asalkan tidak menimbulkan resiko menularkan virus bagi pasangannya. Sementara pada saat bersamaan, keinginan sebagian polisi wanita untuk mengenakan kerudung saat bertugas, justra dihambat-hambat dan ditunda izinnya. Padahal menutup aurat merupakan kewajiban, dan saudari-saudari kita dari polwan ingin secara sukarela mengenakan dan membeli kerudung sendiri. tapi keinginan untuk mengamalkan agama terhambat karena belum ada izin dari pimpinan. Na’uzubillah.

Dan yang terbaru, sekarang ini di DPR dibahas revisi UU tentang Administrasi kependudukan. Jika revisi ini disahkan, maka Bapak-bapak yang ingin mengrus KTP boleh mengosongkan kolom agama di kartu tsb. Artinya apa, warga negara boleh mengaku beragama, dan jika beragama selain 6 agama yg diakui, kolom tersebut tidak wajib diisi. Ini sama saja dengan membiarkan orang untuk beragama apa saja, atau bahkan tidak beragama sekalipun. Maka jika ini terjadi, besok lusa urusan agama dalam kehidupan berbangsa kita memang tidak lagi dianggap penting.

Tanda-tanda musibah diatas tentu membuat kita prihatin, meskipun tak perlu merasa heran. Karena rupanya mental pemimpin-pemimpin kita bukan mental orang-orang beriman yang takut dosa, dan menganggap urusan akhirat adalah urusan sepele. Semoga Allah menghindarkan kita dari orang-orang seperti itu.

Dan sekali lagi, marilah kita sering-sering berdo’a, agar Allah sekalipun tidak pernah menimpakan musibah yang menimpa urusan agama kita.