Yuk Berhijab!

yuk berhijabPertanyaan tentang mana yang lebih dulu menghijabi hati atau diri, seringkali terdengar. Pertanyaan itu seringkali membingungkan bagi yang masih awam, sekaligus menjadi tameng andalan bagi orang yang tidak ingin menghijabi dirinya, dengan alasan ingin menghijabi hatinya lebih dahulu.

Ditambah lagi dengan memberikan pepatah don’t judge the book by its cover, mereka yang tidak mau berhijab beralasan dengan berkata, “percuma dihijab kepala dan badan kalau perbuatan masih maksiat, makanya saya hijab hati dulu deh.” Pepatah yang benar, tapi dijadikan penyesat muslimah untuk tidak berhijab.

Buku merah muda ini terdiri sembilan bab. Selain bab bagaimana dunia memandang wanita, pandangan Islam tentang wanita, dan wanita dan aurat yang sedikit terjelaskan di atas. Ada bab menutup aurat dan pakaian syar’i penutup aurat. Kemudian bab Berpakaian tapi telanjang, bab tabarruj, bab hijab bukan perhiasan, bab kata orang, yang inti semuanya berisi tentang bagaimana menutup aurat yang benar. Dan bab terakhir berhijablah dan taatlah, yang membahas tulisan awal di atas.

“Hijab tanpa nanti, taat tanpa tapi.” Selamat membaca!

Belajar dari Tokoh Pergerakan

belajar-dari-masyumi

Belajar dari Partai Masyumi

Mohammad Yamin begitu membenci Buya Hamka karena perbedaan Ideologi. Ia aktif di Partai Nasionalis Indonesia (PNI), sedangkan Hamka aktif di partai Masyumi. PNI meninginginkan Pancasila sebagai dasar negara, sementara Partai Masyumi berpegang teguh pada sikap ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara. Kebencian Yamin tersulut ketika dalam Sidang Majelis Konstituante, dengan lantang Buya Hamka berpidato dan mengatakan, “Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka!”

Pidato Buya Hamka yang tegas tersebut kemudian menyulut kebencian Mohammad Yamin. Ia menyuarakan kebenciannya kepada Hamka dalam berbagai kesempatan, baik ketika dalam ruang Sidang Konstituante, ataupun dalam berbagai acara dan seminar.

“Rupanya bukan saja wajahnya yang memperlihatkan kebencian pada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya,” begitu kata Buya Hamka.

Tetapi tahun 1962, ketika Mohammad Yamin sakit dan di rawat di RSPAD, dia mengutus Chaerul Saleh agar menjemput Buya Hamka. Sesampai di rumah sakit, Buya Hamka mendekatinya dan menjabat tangannya. Yamin memegang erat tokoh yang dulu pernah dimusuhinya itu. Sementara Hamka terus membisikkan ke teligya Yamin surat Al-Fatihah dan kalimat tauhid. “Laa Ilaaha Illallah”. Dengan suara lirih, Yamin mengikutinya, namun tak berapa lama, tangannya terasa dingin. Yamin menghembuskan nafas terakhirnya disamping sosok yang dulu menjadi seterunya.

(Bab Ketika Perbedaan ideologi Tak Mewariskan Dendam) Continue reading

DAPATKAH ASI MENGGANTIKAN VAKSINASI/IMUNISASI?

best-seller-kontroversi - imunisasiSalah satu argumen dari pegiat antivaksin adalah ASI sudah cukup untuk membentuk imunitas yang memadai bagi setiap anak. Sehingga pemberian ASI pun dapat menggantikan imunisasi. Benarkah demikian?

ASI memang mengandung antibodi untuk melawan kuman, terutama jenis imunoglobulin A (IgA). Antibodi adalah protein yang dibuat oleh sistem kekebalan tubuh untuk melwan benda asing yang masuk (antigen) seperrti bakteri, virus maupun toksin. Tubuh membuat imunoglobulin yang berbeda untuk melawan antigen yang berbeda pula. Misalnya antibodi untuk penyakit cacar air berbeda dengan jenis antibodi untuk penyakit pneumonia.

Sejak lahir bayi sudah membawa perlindungan terhadap beberapa penyakit dari antibodi ibunya (IgG) yang disalurkan melalui plasenta selama dalam kandungan. Seperti disebutkan sebelumnya, bayi yang mendapat ASI juga akan mendapatkan tambahan antibodi (IgA) dari ASI. Namun demikian, perlindungan yang didapatkan bayi tersebut, baik dari antibodi ibu maupun ASI, tidak dapat digunakan untuk melawan semua penyakit, dan sifat perlindungannya pun hanya sementara. IgG ini akan menghilang ketika usia anak menjelang setahun.

Sebagai contoh, antibodi dari ibu akan memberikan perlindungan sementara terhadap penyakit campak hingga usia anak menjelang 9 bulan. Itulah sebabnya mengapa vaksinasi campak diberikan saat anak berusia 9 bulan ( 15 bulan untuk MMR). Namun meski ampuh melawan penyakit campak, antibodi ibu tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit pertusis (batuk rejan). Sedangkan untuk ASI, antibodi di dalam ASI lebih efektif berkerja melawan bakteri yang terdapat di saluran pencernaan, tetapi kurnag efektif untuk melawan penyakit infeksi saluran pernapasan.

Jadi meskipun bayi sudah mendapat kekebalan dari si ibu dan juga dari Asi, tetap saja tidak dapat menggantikan vaksinasi/imunisasi. Selain alasan yang sudah disebutkan di atas, vaksinasi/imunisasi juga bersifat spesifik untuk penyakit tertentu, yang tidak bisa (atau tidak cukup) dilakukan oleh antibodi ibu dan antibodi dari ASI.

Moralitas Komunikasi dan Sebuah Awal Dialog

bukuislamibestseller-proud of youJanoe Arijanto

Iklan memang tidak pernah berdiri sendiri, kehadirannya di tengah masyarakat selalu dipengaruhi dan mempengaruhi eksistensi publik. Iklan adalah produk sosial, yang memiliki konsekuensi sosial, tanggung jawab sosial dan resiko sosial. Dari sisi inilah, fungsi iklan yang didesain dan dibiayai secara besar memiliki arti yang strategis.

Posisi sosial iklan ini menjadi tidak sederhana ketika kita tempatkan ditengah tengah penafsiran etika dan moral yang spesifik, seperti pembahasan tentang iklan Syariah. Seperti mencoba mempertemukan prinsip keimanan dengan pekerjaan sehari hari yang rasional di dunia periklanan.

Mendesain, merancang atau mengeksekusi Iklan Syariah, memang tak semudah sekedar memindahkan logika penafsiran kitab suci ke dalam proses komunikasi dalam bentuk iklan. Karena logika Iklan, seringkali memiliki jalannya sendiri jika dibandingkan dengan penafsiran moral. Irisan-irisannya yang sama masih harus didiskusikan terus menerus.

Iklan misalnya, dituntut untuk menyampaikan pesan secara efektif, menarik dan langsung. Kadang iklan dengan sengaja dibuat untuk memancing dialog, bahkan memancing kontroversi. Jelas, beberapa prinsip iklan seperti itu, akan sering bertubrukan dengan penafsiran-penafsiran kitab suci yang dilakukan secara kaku.

Sebagai Ilustrasi, jika ada sebuah ayat melarang menampilkan gambar hidup dan utuh dari manusia, maka penerapan ayat-ayat tersebut pada praktek komunikasi akan berbenturan keras dengan banyak kepentingan. Bahkan akan menemui banyak tantangan untuk diterapkan. Di kasus seperti itulah, dialog yang cerdas, saling pengertian dan komitmen untuk membangun komunikasi yang lebih baik sangat diperlukan. Terutama ketika kita memperkenalkan praktek iklan syariah.

Meski kita sadari, bahwa dunia iklan seringkali tidak selalu berjalan seiring dengan penafsiran kitab suci, namun toh persoalan mencari titik temu dan terus menerus mencari benang merah harus terus digulirkan. Lebih karena kenyataan sosial, menuntut diadakannya proses tersebut.

Pemberian makna pada proses komunikasi Syariah, adalah transaksi sosial. Sebuah penawaran kepada publik, bahwa label syariah, yang berisi muatan ajaran Islam, sejarah Islam, kultur Islam ataupun Filsafat Islam kini bisa diterapkan dalam komunikasi pemasaran.

Sebenarnya, jauh sebelum ke persoalan transaksi sosial, jika dirasakan lebih detil dan mendalam, traksaksi nilai dan dialog internal yang kreatif itu telah terjadi di masing-masing penulis dalam buku ini. Karena memang, disiplin barat dalam periklanan dan management, menuntut adaptasi yang kreatif ketika diterapkan dalam penafsiran Syariah (Saya pribadi sering menikmati saling silang, transaksi nilai dan dialog internal itu dalam kacamata analisis isi).

Sebagaimana sebuah penawaran konsep sosial kepada publik. Diperlukan kearifan untuk menampung segala ide dan pendapat yang pastinya beragam dan kaya. Dan buku ini adalah usaha untuk membuka dialog itu, sebuah rangkaian pemikiran yang mengembangkan eksistensi komunikasi syariah dalam masyarakat Indonesia.

Sebagaimana sebuah hipotesa, tentu saja buku ini akan menjadi bahan diskusi yang memancing dialog-dialog dan tafsir cerdas yang akan membangun kultur dan moral komunikasi yang lebih baik untuk umat manusia.

 

Kanker Epistemologis

Orientalis-dan-Diabolisme-Pemikiran-GIP

Oleh: Syamsuddin Arif, Ph.D *)

Dalam dunia kedokteran, kanker dikenal sebagai penyakit ganas yang mematikan. Jika dibiarkan atau lambat ditangani, sel kanker bisa tumbuh tak terkendali, menyebar dan merusak jaringan-jaringan anggota tubuh, mengakibatkan berbagai komplikasi, disfungsi, gangguan dan kegagalan. Cukup mengerikan. Namun ada yang lebih dahsyat dari itu, yang disebut “kanker epistemologis”. Kanker jenis ini memang tidak berbentuk tumor, dan karenanya tidak dapat ditangkap oleh sinar-x. Akan tetapi bahayanya tidak kalah mengerikan. Jika tidak lekas ditangani, kanker epistemologis bisa melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectual failure). Pada gilirannya penyakit ini akan menggerogoti keyakinan dan keimanan, dan akhirnya menyebabkan kekufuran.

Pengidap kanker epistemologis biasanya memperlihatkan gejala-gejala sebagai berikut. Pertama, bersikap skeptis terhadap segala hal, dari soal sepele hingga ke masalah-masalah prinsipil dalam agama. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Baginya, semua pendapat tentang semua perkara (termasuk yang qath’i dan bayyin dalam agama) harus selalu terbuka untuk diperdebatkan. Pada tahap yang paling ekstrim, mereka yang terjangkit skeptisisme akut akan meragukan tidak hanya kebenaran posisinya sendiri dengan berkata “I don’t know” (nescio), bahkan juga mengklaim bahwa kebenaran hanya bisa dicari atau didekati, tetapi mustahil ditemukan (nesciam). Dalam literatur filsafat Yunani kuno, sikap mental semacam ini dinamakan arrepsia (bimbang, sangsi) dan aoristia (bingung, tidak bisa memutuskan).

Gejala kedua adalah berfaham relativistik. Pengidap relativisme epistemologis menganggap semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat (agama, aliran, sekte, kelompok, dsb) sama benarnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Menurut faham ini, kebenaran berada dan tersebar dimana-mana, namun semuanya bersifat relatif.

Anda, saya, maupun dia, masing-masing sama-sama benar, tidak boleh menyalahkan satu sama lain, dan tidak berhak mengklaim diri sebagai yang atau paling benar. Jika seorang skeptis menolak semua klaim kebenaran, maka seorang relativis menerima dan mengaggap semuanya benar (panaletheisme).

Dalam hal ini, relativisme epistemologis adalah identik –kalau bukan sinonim– dengan pluralisme. Jika diteliti dengan seksama, paham seperti ini sebenarnya bangkrut. Dari mana ia dapat menyimpulkan bahwa semua pendapat adalah benar? Padahal, konsep ‘benar’ itu ada justru karena adanya konsep ‘salah’ .

Bahwa sindrom ini telah menjangkiti sebagian kalangan cendekiawan dan tokoh agama telah terbukti, misalnya, dalam ungkapan seorang kolumnis di harian nasional belum lama ini. Mengomentari kasus Amina Wadud, ia menulis: “Di dunia ini, kita tidak pernah tahu Kebenaran Absolut. Yang kita tahu hanyalah kebenaran dengan ”k” kecil. Dengan kata lain, apa yang kita yakini sebagai kebenaran mungkin saja salah. Kita mencari kebenaran sepanjang hidup. Apa yang kita percaya sebagai kebenaran adalah sesuatu yang merupakan hasil dari proses belajar dari orang tua, dari sekolah, dari buku, dari lingkungan, dari guru, dari pengalaman hidup, sampai sekarang. Saya tidak bisa mengatakan, apa yang saya anggap benar, pasti benar. Selalu harus terbuka kemungkinan untuk mengoreksi, meninjau ulang,” begitu kutipnya.

Selain lugu (karena membantah ucapannya sendiri alias self-refuting), kolumnis ini hanya menunjukkan kejahilan (ignorance)-nya, karena tidak bisa membedakan antara pengetahuan yang kebenarannya bersifat putatif (seperti teori-teori sains) dan yang pengetahuan yang sudah final dan tsabit dalam agama.

Gejala lain yang ditunjukkan oleh pengidap kanker epistemologis adalah kekacauan akal (intellectual confusion). Ia tidak lagi bisa membedakan yang benar dan yang salah, yang haqq dan yang bathil. Ia cenderung menyamakan dan mencampur-adukkan keduanya. Garis demarkasi yang memisahkan kebenaran dan kepalsuan tidak mampu dilihatnya. Yang paling parah jika hal ini menyebabkan si pesakit lantas menganggap kebenaran sebagai kebathilan, dan sebaliknya, meyakini kebathilan sebagai kebenaran. Seperti mereka yang termakan tipu muslihat Dajjal, melihat air sebagai api, dan api disangka air.

Meskipun sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal, kanker epistemologis sebenarnya bukan mustahil untuk ditanggulangi. Terapi yang paling efektif adalah dengan menyuntikkan ilmu yang bermanfaat ke dalam diri kita. Ilmu yang mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Ilmu yang menuntun kita kepada kebenaran. Ilmu yang dengannya kita dapat melihat yang benar itu benar, dan yang palsu itu palsu. Ilmu yang memberikan kita kriteria dan neraca untuk mengukur dan menimbang, menilai dan memutuskan, memisah dan membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Ilmu tersebut adalah ilmu para Nabi, yang perlahan-lahan mulai berkurang, dan kelak sama-sekali hilang saat kiamat menjelang.

Di era globalisasi seperti sekarang ini, ide dan pemikiran telah menjadi komoditi yang bebas dipasarkan dan dijual di mana-mana. Terserah dan terpulang kepada konsumen mau membeli produk pemikiran jenis apa, karena alasan dan untuk tujuan apa. Namun justru disinilah diperlukan kecerdasan dan ketelitian dalam memilah dan memilih sebelum mengkonsumsi suatu gagasan atau pemikiran. Jangan asal beli. Berhati-hatilah terhadap pelbagai modus penipuan dan penyesatan.

Penulis teringat sebuah ungkapan bijak yang mengatakan bahwa manusia itu ada empat macam. Pertama, mereka yang tahu bahwa dirinya tahu. Yang ini patut dipercaya dan diikuti. Sebagaimana disinyalir dalam al-Qur’an: ula’ika l-ladzina hadallah, fa-bihudahum iqtadih! (al-An’am 90). Kedua, mereka yang tidak tahu bahwa dirinya tahu. Yang seperti ini harus diingatkan dan disadarkan dulu sebelum diikuti. Ketiga, mereka yang tahu bahwa dirinya tak tahu. Yang semacam ini perlu dibimbing dan ditunjukkan. Keempat, mereka yang tak tahu bahwa dirinya tak tahu. Yang model begini tidak perlu dilayani, karena cenderung ngeyel (merasa tahu tetapi tidak tahu merasa). Kepada golongan ini kita disarankan cukup berkata: salamun ‘alaykum la nabtaghi l-jahilin (al-Qashash 55).

*) Penulis adalah peneliti INSISTS.

Khilafah Tends to Corrupt?

Akuntabilitas Negara Khilafah

Akuntabilitas Negara Khilafah

Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Demikian Lord Acton mewariskan kata-kata yang begitu dipercaya kuat oleh orang yang sangat pro pada “pemerintahan rakyat”, yang akhirnya menjadikan pemimpin yang memiliki kewenangan besar begitu ditakuti.

 

Negara Khilafah yang menempatkan seorang khalifah begitu berkuasa karena hak mengadopsi hukum mutlak berada di tangannya, kerap dituding sebagai contoh negara yang berbahaya karena tidak ada chek & balance. (Sebuah tulisan yang menyebut hal seperti itu, pernah dimuat di kompasiana tgl 21/09/2013)

Apakah benar negara khilafah adalah negara yang berpotensi korup karena tidak ada sistem check and balance? Mari kita simak kutipan berikut:

Suatu hari, Jariyah bin Qudama as-Sa’adi mengunjungi Mu’awiyah bin Abu Sufyan ra yang saat itu menjabat sebagai Khalifah. Ketika itu, tiga menteri Romawi juga sedang mengunjunginya. Lalu Mu’awiyah ra berkata kepada jariyah: “Bukankah engkau adalah salah satu pendukung Ali (ra)?”

Jariyah berkata: “Hormati Ali dalam ucapanmu, karena kami tidak pernah menghinakannya, sebab kami mencintainya, dn kami pun tidak pernah mencuranginya, selain memberikan nasehat dan saran padanya.”

Kemudian Mu’awiyah berkata lagi: “Celakalah Engkau Jariyah! Engkau pasti dibenci orang tuamu karena mereka menamaimu Jariyah (yang artinya budak perempuan).” Jariyah menjawab: “Dan Engkau juga pasti dibenci orang tuamu karena mereka menamaimu Mu’awiyah (yang arti lainnya pelacur yang mengonggong dan menjilat bagai anjing).”  Mu’awiyah berteriak: “Diam kau!Engkau bahkan tidak punya Ibu!” 

Jariyah pun balik menjawab: “Engkau yang harus diam wahai Mu’awiyah (tidak menyebutnya Amirul Mukminin) karena aku punya seorang ibu yanng memberiku pedang yang pernah kupakai menghadapimu. kemudain kami pernah memberikan bai’at kami kepadamu, untuk mendengar dan mematuhimu selama engkau memerintah kami berdasarkan firman Allah.Jadi, bila engkau penuhi janjimu, ingatlah bahwa dibelakng kami, berdiri para kesatria bersenjata, yang tidak akan tinggal diam melihat penyimpanganmu.”

Mu’awiyah berkata: Semoga Allah membekali kami dengan apa yang engkau harapkan!” Jariyah menajwab: “Engkau (lagi-lagi tidak memanggil dengan gelar Amirul Mukminin) katakan sesuatu dengan baik dan sopan, karena tempat untuk penguasa yang buruk adalah di neraka.” Jariyah kemudian berlalu dengan menahan kemarahannya tanpa meminta izin untuk pergi dari Mu’awiyah.

Sepeninggal Jariyah, tiga menteri Romawi kembali menghadap pada Mu’awiyah, dan salah satu dari mereka lalu berkata: “Kaisar kami tidak akan ditegur oleh salah seorang warga negara kecuali jika warganya itu berniat melepas mahkota di kepalanya. Jika seseorang di sekitarnya atau keluarganya meninggikan suaranya, bisa-bisa mereka dicincang atau dibakar. Jadi, bagaimana bisa seorang Arab gurun yang kasar dengan perilakunya yang buruk bisa datang begitu saja dan memperlakukanmu seperti tadi, seakan-akan ia sejajar denganmu?”

Mu’awiyah lalu tersenyum dan berkata: “Aku memerintah orang-orang yang tak kenal rasa takut dalam menegakkan kebenaran, dan semua rakyatku memiliki sifat seperti orang Arab gurun tadi. Tidak satu pun di antara mereka yang lemah dalam menegakkan kalimat Allah Swt, tidak ada di antara mereka yang diam melihat ketidakadilan, dan aku pun tidak berada di atas mereka, selain dalam masalah keimanan. Aku telah berkata-kata kasar pada orang tadi dan ia pun berhak menjawab. Aku yang memulai dan aku pula yang layak disalahkan, bukan dia.”

Mendengar kata-kata Mu’awiyah itu, menteri Romawi tersebut menangis hingga Mu’awiyah bertanya mengapa ia menangis. Lalu menteri itu menjawab: “Sebelum hari ini kami mengira bahwa kami setara dengan kalian dalam hal perlindungan dan kekuatan. Namun setelah menyaksikan peristiwa tadi, aku takut bahwa suatu hari nanti kalian akan meluaskan kekuasaannya ke wilayah kami”.

Di Negara Khilafah, pemandangan seperti ini adalah hal biasa. Perintah amar ma’ruf, khususnya pada penguasa akan menciptkan check and balances. Melalui majelis ummat, aspirasi untuk meng-impeach khalifah sekalipun, bisa disampaikan.
Baca selengkapnya di buku: Akuntabilitas Negara Khilafah terbitan Pustaka Thariqul Izzah. Dan kisah-kisah mengagumkan seperti di atas bisa didapatkan dalam kitab Tarikh Khulafa Imam As-Suyuthi.

Khutbah Jum’at Hari Ini

KHUTBAH JUM’AT HARI INI

khutbah jumatBa’da Tahmid Wa Tasliim

Sahabat Ibnu Umar ra meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW, yang menyatakan bahwa beliau tidak meninggalkan sebuah mejelis sebelum mendoakan sahabatnya dengan doa berikut:

Ya Allah, karunikanlah untuk kami rasa takut kepadaMu yang dapat menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan (karuniakanlah untuk kami) ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami kepada surga-Mu, serta (karuniakanlah untuk kami) keyakinan hati yang dapat meringankan kami dari berbagai cobaan dunia. Jadikankan kami bisa menikmati dan memanfaatkan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama kami hidup. Dan jadikan semua itu sebagai pewaris bagi kami (tetap ada pada kami sampai kematian). Jadikanlah kemarahan dan balas dendam kami hanya kepada orang-orang yang menganiaya kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang yang memusuhi kami. (Ya Allah) Janganlah Engkau turunkan musibah yang  menimpa dien kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami dan puncak dari ilmu kami, dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.”

Sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap manusia akan melalui cobaan, ujian atau musibah dalam hidupnya. Dan Allah menciptakan hidup dan mati karena ingin menguji, siapa di antara kita yang paling baik amalannya.

Dalam doa di atas, Rasulullah SAW menyebutkan dua jenis cobaan atau musibah yang mungkin menimpa orang mukmin. Yakni musibah dunia dan musibah agama.

Musibah dunia sudah biasa kita lihat dan mungkin pernah menimpa kita. Anak yang sakit, usaha yang bangkrut, harga-harga melambung, nilai tukar mata uang yang anjlok, adalah sebagian contoh kesulitan-kesulitan dunia yang kita tidak harapkan. Sedangkan musibah agama yaitu musibah mengancam keimanan. Musibah ini bisa berupa aqidah yang batil, tidak takut pada dosa, melanggar syariat dan terjerumus dalam kemaksiatan-kemaksiatan, melalaikan ibadah, dsb.

Dan untuk menghadapi berbagai cobaan dunia, Rasul SAW mengajarkan kita agar meminta kepada Allah keyakinan hati yang dapat meringankan kita menghadapi cobaan tersebut. Karena Allah telah berfirman: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al-Baqarah [2]: 155). Oleh karena ujian semacam ini sudah ketetapan Allah, maka yang dibutuhkan saat menghadapai musibah adalah kesabaran, prasangka baik, dan tidak mudah berputus asa. Insya Allah dengan kesabaran dan ikhtiar yang sungguh2, ujian-ujian tersebut akan segera berlalu. Ekonomi akan berangsur-angsur pulih, harga-harga kembali normal, dan dengan kesungguhan kita, masalah-masalah hidup bisa kita hadapi dengan lebih tenang.

Tetapi untuk urusan agama, doa yang diminta Rasulullah SAW kepada Allah SWT adalah : Ya Allah, jangan sekali-kali menimpakan musibah terhadapa urusan agama kami. Karena sesungguhnya musibah terbesar yang menimpa seorang hamba adalah musibah yang  menimpa agamanya, musibah meninggalkan ketaatan, musibah terjerumus ke dalam kemaksiatan, musibah kerasnya hati, dan putus hubungan dengan Allah.

Dan musibah-musibah dalam urusan agama kita sekarang sudah sangat merajalela dan dianggap biasa. Sekarang ini sudah jadi pemandangan biasa pada hari Jum’at, orang pada datang setelah khutbah dimulai, bahkan ada yang datang menjelang khutbah selesai. Padahal semua kita pada tahu, bahwa mendengar khutbah merupakan bagian dari rangkaian ibadah jum’at.

Pekan lalu ketika memperingati hari AIDS se-dunia, pemerintah meluncurkan program Pekan Kondom Nasional. Salah satu aksinya adlah bagi-bagi kondom gratsi, termasuk di lembaga pendidikan. Alasannya, untuk mencegah penularan HIV bagi pelaku seks beresiko. Tapi kenapa pula di bagi di kampus-kampus. Aksi semacam itu sebenarnya sama saja dengan pelegalan perzinahan. Boleh berzina, asalkan tidak menimbulkan resiko menularkan virus bagi pasangannya. Sementara pada saat bersamaan, keinginan sebagian polisi wanita untuk mengenakan kerudung saat bertugas, justra dihambat-hambat dan ditunda izinnya. Padahal menutup aurat merupakan kewajiban, dan saudari-saudari kita dari polwan ingin secara sukarela mengenakan dan membeli kerudung sendiri. tapi keinginan untuk mengamalkan agama terhambat karena belum ada izin dari pimpinan. Na’uzubillah.

Dan yang terbaru, sekarang ini di DPR dibahas revisi UU tentang Administrasi kependudukan. Jika revisi ini disahkan, maka Bapak-bapak yang ingin mengrus KTP boleh mengosongkan kolom agama di kartu tsb. Artinya apa, warga negara boleh mengaku beragama, dan jika beragama selain 6 agama yg diakui, kolom tersebut tidak wajib diisi. Ini sama saja dengan membiarkan orang untuk beragama apa saja, atau bahkan tidak beragama sekalipun. Maka jika ini terjadi, besok lusa urusan agama dalam kehidupan berbangsa kita memang tidak lagi dianggap penting.

Tanda-tanda musibah diatas tentu membuat kita prihatin, meskipun tak perlu merasa heran. Karena rupanya mental pemimpin-pemimpin kita bukan mental orang-orang beriman yang takut dosa, dan menganggap urusan akhirat adalah urusan sepele. Semoga Allah menghindarkan kita dari orang-orang seperti itu.

Dan sekali lagi, marilah kita sering-sering berdo’a, agar Allah sekalipun tidak pernah menimpakan musibah yang menimpa urusan agama kita.

 

 

Buku Islami Terbaru | Udah, Putusin Aja | Felix Siauw

BUKU ISLAMI BEST SELLER | bukuislamibestseller.wordpress |BEST SELLER | TERBARU | MURAH | MAKASSAR

BUKU ISLAMI | BEST SELLER | MURAH

Buku Best Seller – Udah, Putusin Aja

Cinta… emang kebutuhan semua orang. Laki-laki atau perempuan, dari yang muda sampai yang tua, yang masih bujangan sampai yang sudah duda, masih tetap ingin merasakan serunya jatuh cinta. Urusan cinta memang fitrah manusia yang tentu saja butuh penyaluran. Tapi soal menyalurkan rasa cinta, tentu gak sembarangan seperti yang banyak dicontohkan dalam novel atau sinetron-sinetron di TV. Dalam buku yang sempat jadi  top 10 best seller di gramedia ini, dipaparkan jurus-jurus menemukan cinta sejati yang sesuai tuntunan dari Sang Pencipta. Islam tidak mengharamkan jatuh cinta. Tapi agar Anda salah jalan dalam mencari cinta, maka Islam menetapkan panduan-panduan agar Anda gak nyesal pernah jatuh cinta.

Buku ini merupakan karya terbaru ust. Felix S. Siauw, seorang muballigh muda yang belakangan kerap muncul di TV. Selain ditulis oleh salah seorang penulis favorit, buku ini juga sangat unik karena ditampilkan dalam bentuk grafis full colour, dengan ide cerita yang renyah tanpa mengurangi bobot pesan yang ingin disampaikan. Tampilan cover yang keren, manfaat besar dan harga murah, sudah cukup jadi pertimbangan bagi Anda untuk memiliki salah satu koleksi Buku Islam terbaru kami

Best Seller | 7 keajaiban Rezeki | Ippho Santosa

Rp 45.000

Rp 45.000

Ingin jadi kaya dengan otak kanan?

Ingin nasib Anda berubah dan rezeki bertambah dalam 99 hari?

Ingin melihat keajaiban-keajaiban dalam keuangan Anda?

Buku best seller nasional ini akan memberikan 7 keajaiban yang dapat merubah hidup Anda dalam waktu singkat. 7 keajaiban tersebut adalah:

  • Sidik Jari Kemenangan. Bab pertama pembaca diminta menulis sidik jari kemenangannya masih-masih. Menurutnya semua orang itu unik dan berbeda. Mudah-mudahan dengan memanfaatkan itu kita bisa tahu kemenangan kita. Kalau istilah saya DNA Keberhasilan.
  • Sepasang Bidadari. Di sini Ippho menjelaskan kaitan antara LoA (Law of Atraction) dan Doa. Sepasang bidadari sendiri adalah Doa Orang Tua dan Doa Pasangan. Ya itulah keajaiban. Dengan menyelaraskan impian kita dengan impian sepasang bidadari mudah-mudahan rezeki kita lebih cepat.
  • Golongan Kanan. Bagian ini sendiri menjelaskan pentingnya menggunakan otak kanan. Isinya kurang lebih sama dengan buku 13 Wasiat Terlarang – Dahsyat Dengan Otak Kanan. Mudah-mudahan dengan menggunakan kekuatan otak kanan dan menjadi golongan kanan kita jadi lebih berani, berpikir benar, dan kreatif.
  • Simpul Perdagangan. 9 dari 10 pintu rejeki itu ada di perdagangan. Nabi sendiri seorang pedagang. Harusnya kita jadi orang kaya dengan berdagang. Mudah-mudahan dengan mengaktifkan simpul perdagangan kita bisa menjadi pebisnis yang sukses.
  • Perisai Langit. Ini juga salah satu keajaiban. Di sini Ippho banyak mengulas tentang sedekah. Dahsyatnya sedekah. Bagaimana membeli setiap kesulitan kita dengan sedekah. Mudah-mudahan dengan bersedekah rezeki kita semakin lancar dan semua kesulitan kita bisa teratasi.
  • Pembeda Abadi. Yup! Differensiasi telah menjadi 1 dari 7 keajaiban rezeki. Agar sukses, kita butuh sesuatu yang berbeda. Memang differensiasi itu minta ampun pentingnya. Mudah-mudahan setelah mengamalkan Pembeda Abadi ini kita benar-benar bisa mencapai kesuksesan.
  • Pelangi Ikhtiar. Pelangi ikhtiar berisi 7 sikap (bias) yang dimiliki setiap pemenang. Terdiri dari impian, tindakan, kecepatan, keyakinan, pembelajaran, Integritas, dan keikhlasan. 7 Bias Pelangi ikhtiar itu benar-benar menyadarkan kita apa yang harus dilakukan untuk mencapai impian kita. Mudah-mudahan mengamalkan prinsip-prinsip pelangi ikhtiar kita benar-benar bisa mencapi impian hidup kita.

Masterpiece dari  motivator sukses  Ippho Santosa,  akan membuka mata Anda bahwa uang bukanlah sumber bencana, tapi sumber kebahagiaan. Disini, kami menawarkannya dengan harga spesial, lebih murah dari harga di toko buku.